Kursus Persiapan Perkawinan

20 May

Berikut langkah-langkah untuk mengesahkan pernikahan di Gereja Katolik:

1. Datang ke sekreatariat Gereja, cari jadwal Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) yang terdekat.

2. Siapkan berkas yang diperlukan dan daftarkan segera diri Anda dan pasangan untuk mengikuti KPP.

3. Membayar biaya yang diperlukan. Untuk referensi, kemarin saya KPP sepasang bayar Rp.200.000,- untuk 5 hari kursus.

4. Ikuti KPP dan dapatkan sertifikatnya.

5. Bawa sertifikat KPP ke sekretariat Gereja kembali untuk menjadwalkan Kanonik (sejenis wawancara dengan pastor).

6.Tunggu dispensasi dari Uskup setempat (bagi kawin campur).

7. Daftarkan tanggal perkawinan di sekretariat Gereja.

8. SIAP-SIAP NIKAH! :)

Yang dipelajari di KPP (paling tidak, berikut materi umum yang saya dapatkan di KPP Katedral Denpasar):

1. HIV/Aids

2. Ekonomi dalam Keluarga

3. Cara Mendidik Anak

4. Mengenak Diri dan Pasangan

5. Perkawinan dalam Gereja Katolik

Yang perlu dicatat adalah, di KPP tidak membahas secara spesifik tentang agama, namun lebih ke persiapan pernikahan secara umum (kecuali sesi mengenai Pernikahan dalam Gereja Katolik yang membahas syarat dan ketentuan menikah di dalam Gereja).

Kesan Mengikuti KPP:

1. KPP ini sangat memberikan banyak pengetahuan baru, terutama untuk yang akan berumah tangga. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya dan pasangan yang terjawab di sesi KPP ini. Selain itu, banyak pasutri (pasangan suami istri) yang kami kenal memberikan inspirasi dan menyediakan diri mereka untuk dihubungi bila kami membutuhkan konsultasi apapun. Sudut pandang netral yang dibagikan pasutri itu turut memberikan teladan dan pandangan positif bagi kami.

2. Selama beberapa hari pertemuan KPP ini, kami juga mengenal banyak pasangan lain sebagai teman baru.

3. Membuka mata kami tentang banyaknya konsultasi keluarga dan parenting yang ada di kota kami, yang sebelumnya belum kami ketahui. Untuk ke depannya, kami juga berencana mengikut beberapa sesi tersebut.

Pernikahan / Kawin Campur

Saya juga baru tahu, ternyata, pernikahan kawin campur itu:

1. Secara sipil, negara tidak dapat mencatat pernikahan beda agama. Aturan ini umumnya ada di seluruh Indonesia. Namun, untuk khususnya, dapat ditanyakan kembali ke kantor sipil yang terkait. Untuk dicatat di sipil, ada syarat tertentu:

a.) Pernikahan dilangsungkan di salah satu agama mempelai.

b.) Bila di Denpasar, kantor sipil membutuhkan surat (sebagai formalitas) dari Gereja saya yang menyatakan bahwa pasangan sedang belajar agama Katolik.

2. Agama selain Katolik di Indonesia tidak dapat mengesahkan kawin campur di dalam agama tanpa salah satu pasangan harus pindah agama. Namun Gereja Katolik mengijinkan kawin campur dengan syarat tertentu:

a.) Pasangan non-katolik menyatakan kesediaannya untuk menikah di dalam Gereja Katolik

b.) Pendidikan anak secara Katolik (misal, disekolahkan di sekolah Katolik)

c.) Mendapat dispensasi dari Uskup setempat

d.) Tidak ada hal lain yang menghalangi pernikahan, selain perbedaan agama.

 

Itu dulu sedikit untuk pencerahan bagi yang membutuhkan. Jadi, bagi yang pernah mendengar bahwa “Pernikahan kawin campur itu tidak mungkin diakui agama dan negara” adalah salah. Menurut saya pribadi, di mana ada cinta dan kemauan, bila tidak ada hal lain yang menghalangi selain perbedaan agama, maka sepatutnya diperjuangkan. Tuhan aja ngajarin kita tentang hukum utamanya yaitu Kasih dan Cinta kok, masak’ Tuhan mau ‘agamanya’ memisahkan mereka? :)

Cheers!

Bahagia itu.. ‘beda’ !

10 May

Pagi ini tiba-tiba jadi sedikit melow. Bukan, bukan karena duduk di pantai dengan semilir angin sambil nge-bir dan dengerin lagu jazz. Tapi ide ini tiba-tiba terlintas begitu aja dengan laptop dan internet di depan mata. Alhasil, kejadian yang terjadi sekali dalam seribu tahun ini tidak boleh disia-siakan begitu saja.

Kemarin baru saja ngobrol dengan temen tentang pencapaian dan nikmat. (Errr.. Jangan keburu mikir ke mana-mana dulu. Hehe.. ). Ada satu temen yang tiap hari harus ada menghasilkan output, baru merasa puas. Kalo ky nonton tv seharian dan ga ngapa-ngapain, dia merasa kayaknya ada yang salah. Walaupun ada kecuali, yaitu kecuali pas liburan..

Sedangkan ada yang merasa pencapaian itu harus dinikmati. Ketika kita berhasil mencapai sesuatu, ada baiknya berenti dulu, nikmati dulu pencapaian itu.. Di situlah makna puas sebenarnya buat dia.

(berhenti ngetik dulu agak lama, memberikan efek dramatis)

Well, Tuhan menciptakan berbiliun-biliun manusia di dunia ini. Pokoknya banyak banget lah, gw ga sempet ‘googling’ juga berapa tepatnya jumlah penduduk dunia saat ini, mengingat penduduk Indonesia aja banyak yang masih double KTP. Sayang kan rasanya kalo setiap orang diciptakan sama seperti produk masal. :)

Wajar aja kalo arti ‘kebahagiaan’ menurut tiap orang beda-beda. Simply, karena tiap manusia itu beda. Karena itulah, gw juga suka ilmu psikologi sebenernya. Cuma telat aja nyadarnya, jadi udah males kalo kuliah S1 lagi.

Ngomong-ngomong tentang psikologi, beberapa minggu lalu, ada juga temen gw yang cerita tentang suatu ‘ilmu’ yang pernah ia dapat dari suatu seminar. Dia berbagi tentang “tipe penglihat” dan “tipe perasa”, di mana:

Tipe Penglihat itu orangnya lebih fokus dan prioritas ke apa yang dilihat. Pake baju harus (menurut orang lain) cantik/cakep even mungkin buat dia sendiri ga nyaman; juga seneng aja kalo yang dia pny itu bisa dia liat. Kenapa lebih suka pantai daripadi gunung? Karena lebih suka warna biru daripada hijau. Hal-hal seperti itu lah. Singkat kata, temen gw yang puas dengan output yang dia capai tadi termasuk tipe ini.

Tipe perasa itu orangnya lebih fokus ke perasaan, sudah jelas banget dari kata-katanya juga. Tipe ini akan lebih suka gunung daripada laut karena di gunung lebih damai, lebih tenang. Well, sebenarnya pertanyaan ini bukan fokus pada hasilnya, tapi lebih kepada alasan di balik itu. Tipe ini juga lebih cuek dalam berpakaian misalnya, “yang penting gw ‘rasa’ nyaman”. Alhasil orang-orang ini dapat dikenali lewat kegembelannya dalam fashion.

See? Belum lagi beribu ‘ilmu’ tentang perbedaan yang masih ada di 4 benua lainnya.

Apa yang belum banyak diterima banyak orang adalah: Semua orang itu berbeda. Jadi, nikmati aja diri kita yang sebenarnya. Kita berhak bahagia dengan cara kita sendiri, dengan cara apa yang kita anggap membahagiakan. Tidak adil rasanya harus men-judge kesuksesan dan kebahagiaan orang dari sudut pandang pribadi, apalagi memaksakan untuk memandang dari sisi yang sama.

Tapi, seringkali kita sudah melakukan itu lho ketika nyeletuk tentang hal-hal simpel, seperti:
“Hah? Aneh banget ga suka duren? Padahal enak lho..”

Well, gw sendiri juga masih sering kelepasan sih. Jadi!, Marilah kita bersama membenahi diri.. (tiba-tiba pake kopiah ibarat pemuka agama dan tiba-tiba gw ada di podium dengan beribu jemaat). Bah!

Ya intinya itu lah.. Selama pencapaian kebahagiaan itu ga mengganggu orang lain, monggooooo.. :)

Cheers!

Planning a Wedding? Think twice to get married.

1 Apr

HELLLPPPP!!!!!

Who said that planning a wedding would be easy? No one.. Yeah, I know, no one. It is me myself who decided not to use any wedding organizer, and I don’t want to give up on this. I just did not imagine this is going to make me (almost) crazy!

All details are coming slowly but sure. It means nothing if you are not perfectionist (like me). This is one of the most beautiful day every brides-to-be are looking forward for all their whole life. Of course I want to get involved making it perfect!

But have you been thinking about the details like the electricity watt you will need VS the hotel will provides, the wedding invitation wordings for the parents VS couples hosts, the centerpiece with flowers only or with candles? Not familiar? No worries, you will suddenly become expert to know every wedding terms and details like what is save the date for, how long you should have sent it before the wedding day, the many kinds of flower, local flowers, import flowers, wedding theme color, how it connects to all designs and also the color of the flowers, etc. Well, it is not finished yet.

When you are busy thinking about every details you are dreaming of, then it comes to you the traditions and the ways your parents or family want to have in the wedding, even the duration, the rundown, where THEY WANT your wedding is held, is the place quite good or not, until you have already forgotten about whose wedding it is, which is the different between the “want” and “need” or “must”. Sometimes you can even think why couldn’t they just put it on their own wedding? That is just the start when you will keep asking “God, why oh whyyyyyyyyy..?????”

WHOOOSAAAAHHH…
Okay, I will continue browsing about the wedding wordings, and I am looking at traditional wedding, modern wedding, parents hosting, parents and couple hosting, couple hosting, eeehhh??????

PS:
No worries, I will post when I can deal with it and show the final result of my invitation.
Mantra: “I can do it. I can do it. I can do it!”

Rehabilitasi Terumbu Karang di Tanjung Kotal, Menjangan, Bali

8 Mar

Ketika saya datang ke Bali di awal 2011, saya dipertemukan dengan Coral Reef Community di Bali untuk mengerjakan proyek konservasi terumbu karang di Tanjung Kotal, depan Waka Shorea Resort, Taman Nasional Bali Barat. Letaknya Tanjung Kotal sendiri tepat di sebrang pulau Menjangan, dapat dicapai melalui darat selama 4.5 jam dari Sanur atau Denpasar, lalu menyebrang dengan boat dari Labuan Lalang selama 15 menit untuk mencapai Tanjung Kotal, walau sebenarnya masih terletak di Pulau Bali sendiri.

Lalu, mengapa Tanjung Kotal? Sebenarnya tempat ini pernah menjadi salah satu snorkeling dan diving site terbaik di Bali karena keanekaragaman terumbu karang dan biota lautnya. Namun pada tahun 2007, hama Mahkota Berduri (Crown of Thorn), Acanthaster plancii, menyerang dengan sangat tidak terkontrol. Akibatnya, ekosistem rusak parah di area perairan ini hingga ke Menjangan.

Crown-of-Thorns Starfish

Crown-of-Thorns

Walaupun Menjangan dan Tanjung Kotal sama-sama hancur, tapi pada saat itu semua perhatian terpusat pada pemulihan di pulau Menjangan karena merupakan salah satu tujuan scuba diving terbaik di dunia. Karena itu, kami memutuskan untuk fokus di Tanjung Kotal, dan kebetulan hal ini didukung penuh oleh Waka Shorea Resort di mana mereka membantu memfasilitasi kami untuk akomodasi.

Sejak proyek ini dimulai tahun 2009 hingga sekarang, ‘lahan’ bawah air yang tadinya tandus dan kering tanpa ikan, sekarang telah mulai bersemi dan banyak ikan yang tinggal di sana. Kami sangat senang melihat perkembangan ini dan masih terus semangat sambil terus mencari adopter terumbu karang.

Sensasi ketika melakukan rehabilitasi terumbu karang ini pun sangat berbeda dan menyenangkan. Ketika menanam dan mengikat bibit terumbu karang pada karang mati (metode akan dijelaskan kemudian), ikan kecil akan datang dan melihat apa yang kita lakukan. Mereka akan memutari kita dan seolah berkata, “siapakah ini yang sedang membuat rumah baru untukku?” Lalu mereka akan memutari bibit karang sambil seolah menari senang saat kita sudah selesai menanam. Setidaknya hal itulah yang membuat saya betah dan senang mengerjakan proyek ini hingga sekarang.

Selama 3 tahun lebih ini, tentu saja tidak semua semulus jalan aspal. Dari sebelum saya bergabung hingga sekarang, Coral Reef Community sendiri telah mencoba beberapa metode untuk mendapatkan hasil terbaik dan tercepat bagi pertumbuhan terumbu karang. Berikut saya ceritakan metode sebelumnya yang sudah pernah kami coba.

Substrat Beton

Awalnya, terumbu karang yang mau ditanam di Tanjung Kotal dibeli dari Serangan, tempat penjualan bibit terumbu karang. Harganya dapat mencapai Rp.20.000,- hingga Rp.30.000,- per terumbu karang. Media penanamannya juga berupa base beton yang dibeli dari sana, dan diturunkan di Tanjung Kotal. Lalu, karang yang telah diadopsi dan akan ditanam ditempelkan ke beton dengan semen dan diberi nomor sesuai data adopter.

Cement Base Substrat

Substrat Base Semen

Numbering

Penomoran

Namun, metode ini tidak bertahan lama karena memiliki beberapa kelemahan yaitu:

  1. Tingginya biaya, baik dari segi base beton maupun terumbu karang yang ditanam.
  2. Sulitnya mengganti bibit yang rusak, mati, atau tidak tumbuh.
  3. Banyaknya sumber daya manusia untuk mengerjakan kegiatan ini, terutama karena base beton yang berat.
  4. Bibit yang didapat dari Serangan tidak dapat bertahan lama karena perbedaan lingkungan dan sempat terkena El Nino. Seperti yang kita tahu, pertumbuhan terumbu karang dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti tingkat salinitas, suhu air laut, dan makanan yang tersedia. Mungkin karena perbedaan satu atau dua di antara faktor-faktor tersebut, maka karang dari Serangan tidak dapat bertahan di Tanjung Kotal.
  5. Ada penolakan dari Taman Nasional Bali Barat yang mempertanyakan mengenai spesies coral yang dibawa dari luar Taman Nasional. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa, spesies dalam Taman Nasional Bali Barat, baik tanaman maupun hewan haruslah asli dari kawasan tersebut. Sehingga bila ada papaya yang tidak sengaja tumbuh karena tindakan manusia yang tidak alami pun harus ditebang.

Transplantasi

Setelah gagal dengan metode tersebut, kami mencoba cara lain yang pada akhirnya jatuh pada transplantasi bibit terumbu karang Porites cylindrica ke karang mati. Kami memilik spesies ini karena telah terbukti paling tahan terhadap perubahan suhu yang tidak terlalu drastis, dan pertumbuhannya lebih cepat daripada spesies lain yang telah kami coba hingga saat ini. Selain itu, karena bentuknya yang bercabang, memotong bibitnya pun menjadi lebih mudah tanpa merusak dan mematikan induknya.

Porites cylindrica

Porites cylindrica

Bibit ini kami ambil di sekitar 1-2 kilometer dari Tanjung Kotal sehingga masih memiliki kesamaan salinitas, suhu dan sebagainya dengan yang ada di Tanjung Kotal, sehingga persiapan bibit pun menjadi lebih mudah, cepat, dan tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Bibit-bibit ini lalu kami letakkan di dalam ember yang berisi air laut, dan kami rendam sehingga tidak mati. Sesampainya di Tanjung Kotal, setelah beristirahat sejenak untuk surface interval, kami mulai mengikat bibit ke karang mati.

Mengikat Bibit

Mengikat Bibit

Karang yang telah diikat ini pun berhasil tumbuh dengan baik, dan mulai banyak yang bersemi dan menutupi cable ties seperti gambar di bawah. Lama kelamaan, karang yang sedang tumbuh ini diharapkan dapat terus melebar dan menutup karang mati medianya. Pada akhirnya, kami berharap, lokasi Tanjung Kotal akan bersemi kembali seperti semula.

Karang tumbuh menutupi cable ties

Karang tumbuh menutupi cable ties

Seiring dengan berlalunya waktu, kami mendapat jumlah adopter yang makin bertambah, dan membutuhkan lebih banyak media dan ruang untuk menanam bibit yang baru. Karena itu, kami mulai mencoba metode lain, yaitu menancapkan paku untuk media tumbuhnya karang dan juga dengan media substrat semen baru. Media semen ini pun dapat menahan bibit agar tidak terombang ambing, dan dapat menciptakan ruang baru (selain karang mati) untuk tumbuh. Paku-paku ini diharapkan cepat berkarat dan mempercepat proses tumbuhnya bibit tersebut. Nama adopter dapat kami ikatkan pada cable ties. Proses penggantian bibit yang rusak pun akan menjadi mudah. Kita akan lihat dan membandingkan antara kedua metode baru yang dicoba ini, mana yang lebih cepat dan baik pertumbuhannya yang akan digunakan untuk berikutnya.

Metode Baru Transplantasi dengan Paku

Metode Baru Transplantasi dengan Paku

Media Substrat Baru yang akan Dicoba

Media Substrat Baru yang akan Dicoba

Demikianlah apa yang dapat saya ceritakan mengenai proyek rehabilitasi terumbu karang di Tanjung Kotal, Menjangan, Bali ini. Setelah kami bekerja sama dengan Turtur Dive dan mendapat adopter dari ACG International School Jakarta dan Earth Hour Bali pada Maret ini, kami berharap akan ada lebih banyak orang lagi yang tergerak untuk mengadopsi terumbu karang di tempat ini.

Review: Waka Shorea Resort

4 Mar

I have wanted to post about this place since a long time ago but no chance and pics till today. This review is written based on my personal experience and not a paid-review-article.

Located in the quiet North Bali, Waka Shorea Resort is the place you should come if the holiday for you means relaxing and far far away from the party or crowd in Southern side of Bali. Waka Shorea resort is located in Bali Barat National Park, around 3.5 hours ride from Denpasar, and 15 minutes boat ride from Labuan Lalang to the resort. At first I came here, the sensation when I arrive in the resort is totally different.

When I parked the car in their parking lot, I wonder when I just could only see the receptionist. Where are the rooms? After you waited a while, they will take you to Labuan Lalang, where the boat has been ready for you. Walking along the wood jetty in Labuan Lalang, still with a lot of questions on my head, but seeing the island and mountain shadows from this side can put the questions aside for a while. Wait until I tell you the next part.

At first I arrived there, it was around 9 PM at night. The boat has no light, but you can trust that they are going the right way and will not bump into something. Just the boatman, the boat, and me. I stepped to the deck, and it took my breath away. Definitely! I was seeing the sky full of stars, the moon lights, and nothing else, just me and the beauty. The boat roars and leaves Labuan Lalang in no time. I was suddenly already in the middle of the sea. At that time, I knew. I knew that I was going to the place called: HEAVEN.

After approximately 15 minutes, the boat came closer to the jetty. I could see the lights along the jetty, leading towards the beach, and wood cabin with some yellow lights. I could not see much at night, so I went directly to the room they showed me, ordered the dinner, took shower and rest.

The room is nice with the mosquito-net, air-con, refrigerator, fresh fruit and mineral water inside the room. They provide soap, shampoo, conditioner, and shower-cap in the bathroom, but no tooth paste and tooth brush, so remember to bring on your own when you stay here. They have Lanai room or Villa with the published price you see in their website.

The next morning, I woke up early and walked to the jetty. Gosh. I could not believe what I was seeing. The crystal blue water in front of me, calling me to jump and dive, the water is calm like the private pool, then I realized that I came here for a mission, so I need to calm down. I was walking through the recreation center, the front office which has the writing on the stone “Welcome to the Jungle”, the salt water pool, and arrived to the restaurant when I realized that I was walking with the open, amazed, mouth. Embarrassing but I don’t mind.

After the waiter took note my order, I was sitting there and knew that I would be falling in love with this love for my entire life. It so peaceful, quite, the room made of wood and other natural building materials. Anyway, the food is nice, but the price is like another resort, you won’t have Rp.10.000,- fried rice here, of course. But they give mineral water with no extra charge. No TV and weak phone provider signal, but you can still access the internet with wi-fi provided. They provide free canoe for the resort guest, and you can do trekking and snorkeling as well.

In front of the resort, there is the area for Coral Conservation project from Coral Reef Community which Turtur Dive and I are volunteering at from early 2011 till now. You can also take Eco Diving Package from Turtur Dive. In short, from the general concept of the resort, you will definitely know that they are eco-friendly resort focusing on outdoor natural activities. If you are that typical person who doesn’t mind to ride for 3.5 hours, it will all be worth-it. Believe me :)

These pictures are taken on the early 2013:

Receptionist Entry

Receptionist Entry

Receptionist

Receptionist

Labuan Lalang Jetty

Labuan Lalang Jetty

Waka Shorea Resort Boat

Waka Shorea Resort Boat

Tanjung Kotal Jetty

Tanjung Kotal Jetty

Jetty with Stairs

Jetty with Stairs

Swimming Pool

Swimming Pool

Welcome to the Jungle

Welcome to the Jungle

Front Office

Front Office

Terrace

Terrace

Lanai Room

Lanai Room

The Bed

The Bed

Toilet

Toilet

Inside Bathroom

Inside Bathroom

Shower

Shower

Restaurant

Restaurant

Recreation Center

Recreation Center

Recreation Center

Recreation Center

.

Travel Note: Raja Ampat, Indonesia

26 Nov

Ini cm catatan pribadi, supaya ga lupa, bro. Skalian juga utk referensi temen2 kalo mau dateng ke Raja Ampat :)

Trip ke Raja Ampat ini dalam rangka IDTravellers 2012 yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata. Ada 5 tim yang disebar ke seluruh Indonesia:
Weh (Aceh), Derawan (Kalimantan Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Komodo (Flores, NTB), Raja Ampat (Papua).

9-11 November 2012 Karantina di Jakarta, dpt pembekalan dari Jerry Aurum (Photographer), Cahyo Alkantana (Videographer), Riyanni Djangkaru (Adventurer), Mariska Prudence (Blogger).

9/11:
11.15-11.47 dps-jkt, lion air
12.00-14.00 otw to apartment batavia, Kuningan
14.00-16.00 lunch & briefing
16.00-18.00 otw to kemang: Reading Room
19.00-21.30 Workshop photography by Jerry Aurum.
Intinya: Think out of the box. Latih terus kreativitas. Selalu bertanya, “Kalo diksh kesempatan lagi, sy akan ambil foto yang sama ini gmn..”
22.00-23.30 otw back to apartment

10/11:
Workshop videography by Cahyo Alkantana
Intinya: Banyak beauty shot. Jgn males bw tripod. Golden moment itu pas pasang, surut, sunrise, sunset. Jgn males ambil golden moment itu. Usahakan terus mikir utk ambil shot2 mahal. Dg sedikit berpikir creative, kita bs menciptakan suatu karya yang beda bgt. Video yang bagus itu, kalo dimatiin suaranya, org akan tetep nonton smp habis. Jangan nyerah sama cuaca, atau keadaan.
Lunch
Susun konsep video
Workshop adventurer/host by R. Djangkaru
Intinya: senam muka. olah vokal. suara perut. rajin olahraga. jujurlah dgn ekspresi. jgn ngeluh kalo disuruh videographer utk ngulang terus. kalo ketemu tetua adat, kita perlu hormat tp jgn lupa bahwa kita tetap lah bintang acaranya.

11/11:
Workshop blogging by Mariska Prudence + berenang di pool
Lunch
Meeting dg bu ratna, kementrian pariwisata

12-16 November 2012 And the adventure begins… (JENG JENG JENG)

Gw pergi sama tim yang terdiri dari 4 orang: photographer (Fajar), videographer (Mio), blogger (Bem), dan gw sendiri sebagai adventurer. Ditambah lagi 1 pembimbing (Gilang).

11/11:
20.50 brgkt ke bandara Soekarno Hatta, Jakarta
21.30 sampe, check-in
22.00 makan solaria, tdnya udh naik tp tutup smua. Hampir telat tp laper! Haha..
22.23 lari2 utk ke ruang tunggu. Udh kosong! Boarding!
Tnyt msh baris di dlm :) )
Sriwijaya air
22.45 mulai jalan. On time.
12.55 wib/1.55 wita transit d bandara Sultan Hassanudin, Makasar/uj pandang

FLIGHT to SORONG

Pake Sriwijaya Air
Jkt-Makasar-Sorong (2 jam + transit 1 jam + 2 jam)

Kalo mau direct flight, katanya bs pake Express Air
Jkt-Sorong (tiap hari): 01.10-07.20 atau 05.40-13.10
Sorong-Jkt (tiap hari): 10.40-12.40 atau 14.00-16.50

Prices in general, Rp.4.000.000,- up to Rp.6.000.000,- return per pax

12/11:
3.15 boarding up-sorong, sriwijaya air
6.30 wit mendarat di Bandara DEO alias Domine Edward Osok, Sorong
7.05-7.10 tiba di hotel J.E.Meridien (cuma 5 menit dari bandara, konon hotel paling bagus di Sorong) kamar no.303&304. Enak jg hotelnya, bersih, AC, twin bed, wc bersih dan simple, kamar luas, ada TV Cable.
Breakfast, istirahat

Di hotel ini, salah satu dari sedikit tempat kita bs beli PIN Raja Ampat dl Rp.250.000 utk lokal. Pin ini utk tanda masuk nanti, dan pin berlaku 1 tahun 2012. Tiap Tahun design pin akan beda dan dikompetisikan.

12.00 check out

Makanan khas: Papeda, dg ikan merah/sapu2/kerapu dimasak dg kuah kuning

12.15 jalan ke pelabuhan rakyat lewat Jalan Baru

Fact about Sorong:
* Mobil angkutan umum di sini banyak pake double cabin ky Strada, tarif Rp.100.000,- s/d Rp.200.000,- ke kabupaten-kabupaten di sorong selatan sekitar 6 jam perjalanan sekitar 500an KM, mantaapp!!
* Angkot 2500-3000, angkot jauh dekat
* Byk penduduk datangan dr sulsel/sultim/jawa

12.30 sampe pelabuhan rakyat

HTM:
Tiket msk mbl 3.000 (minta bukti resmi)
Tiket vip ferry 150.000
Tiket biasa ferry 130.000

14.30 Ferry Sorong-Waisai (2 jam perjalanan)
16.30 berlabuh di Waiwo
Naik speed boat ke waiwo dive resort sekitar 15 menit

Waiwo Dive Resort:
Tarif nginep Rp.450.000,- per malam per orang (Fan, sharing bathroom, hot water, 1 room 3-4 people, single bed)

Tarif diving Rp.550.000,- per dive per orang

Sewa alat diving Rp.350.000,- per set include tanks

Ktm marselina, iyan, else. Diceritakan ttg:
Cendrawasih, goa ular api/ular naga, burung pantat goyang :) )

18.05 nikmatin sunset yg mendung tp tetep asoy
Dinner & pindah2in foto
23.30 tidur

13/11:
The real adventures begin. YEAYYY!!!
09.30 brgkt (seharusnya dijadwalkan jam 08.00)
10.25 Mampir mioskun sebentar

Ada quote random:
“keterbatasan membuat org2 indonesia itu mjd kreatif”
“Cowok adventure itu emang bikin horny” :) ))

Dive 1: Manta Point
Dapet 7 mantaaaa, playing and playing and playing with us!
Trus dpt nudi jabrik, sm pipefish aneh..
Housing camera error LAGI. kesel.. -.-”
Alat kegedean :(

Pas udah mau pergi, liat ada bule pake payung. Ternyata operator diving baru, blm tau manta point, cari manual, karena ga ada GPS makanya si bule tinggal sementara speed jemput yang lain utk ke sana lagi. This is the real effort to work hard, my man!!Kita harus mencontoh yg ky gini nih klo mau maju..

Lunch di arborek: ekonomi lokal kerajinan tangan, anak2, ada org meninggal

Dive 2: Mioskun
Cari Wobbegong Shark khas Papua, dapet 3! YEAY! Yang lain so-so, dpt pipefish, nudi, orang utan crab.

Liat kelelawar
Pulang
Kabar buruk hari ini: Bonnie disuntik mati :’((
Ktm Amel dan tidur sekamar. Great story of life. Tnyt byk org ‘gila’ di dunia ini kok :) )

14/11:
07.00 jalan ke Wayaggg!!! (3 jam naik speed boat one way)
Lewatin Selat kabui dan the passage kereenn!!

* Di sini byk burung di kayu di laut
* Bedanya sm komodo, pulau2 di sini ijo2
* Di sini ada yang namanya Buka Sasi, yaitu selama 3 bulan ga boleh nangkep/jaring di suatu tempat. Jd dibiarin dl tumbuh dewasa. Setelah itu, baru boleh ‘panen’, semua boleh nangkep yang dewasa.. Abs itu Buka Sasi lagi. Biasanya yang di-Sasi itu lobster, teripang, ikan.

10.30 sampe wayag
Ke kantor CI (Conservation International) dl daftar pake pin dan dpt guide
Amel bw snack nya lucu tempatnya: snacks, tissue, shampo bayi, antis, kopi, antimo, tolak angin, haha..
Dari CI kita lgs ke puncak 1, treking 30 menit pake booties soalny tajem2, dokumentasi dan foto2. Sampe Puncak Wayag gw cm bisa bilang WOW smbl ngos2an :’) Ini Indonesia..
Di sini kita foto dan syuting.
13.00 blk ke kantor CI
13.30 smp, lunch di boat
14.00 bikin video lagi di sini
14.30 jalan blk
18.00 sampe tp mampir dl ke goa di Kabuy yang direkomendasikan boatman, Pak Mayo. O-My-God! Krn kita ga expect, jdnya kita sgt seneng dan surprised dg goa ini :)
Malem, Bem seneng bgt dan ngundang Pak Mayo ke kamar utk ngbrl.. Trus dia cerita bbrp lagi yang blm smpt org byk tau, daaaaannnn.. dia blg ada patung prajurit yang menari kalo disentuh wanita!!! Laut di tengah hutan!! Uwow. Kapan2 ke sini hrs ketemu Pak Mayo lg ah.. :) )

15/9:
Jam 5.30an kita udh jalan (Ada rombongan Nadine jg tnyt. Diving world is small -.-” dia mau syuting utk Wonderful Indonesia) ke kampung Yenbezer, utk liat cendrawasih

Kapal sempet ngadat, smp jam 6.15 msh di tengah jalan (laut). Udh hopeless tkt Cendrawasihnya udah ga ada. Cm tersisa hari ini. Habislah udah kalo ga dpt, krn itu kan khasnya banget.. :( Trus jd kontemplasi deh, jgn menyerah sm keadaan, terus berharap :’) Eh, lg mkr ky gt trus mesinnya idup lg :) Glory to be God!
07.00an naik, 24 menit
Ada 3 cendrawasih!! 2 lg kawin. Aheyyy.. cantiknyaa..

Facts ttg cendrawasih:
Yg ekornya lbh panjang jantan
Yg ekornya lbh pendek betina
Musim kawin puncaknya mei-agst
Musim nari puncaknya mei-sept
Makin ke sini makin sedikit smp november
Kata bpk guidenya, “walau td udh siang tp krn kemauan hati kita msh bs liat di kawin :’)

Pas turun, syuting di lokasi yg sm dg Nadine, haha.. Ga kalah dah gw sm artis *nyengir aja* cm kalah properti aja, gw pake sandal jepit, hahhaaha..
08.20 jalan ke arborek
Liat kru di kapal jd kgn Umbu di Komodo. I want and i will go to cndive again :)
09.00 smp arborek, explore kerajinan lokal, syuting dan wawancara sampe 2 jam
11.00 jalan pulang ke waiwo dive resort
12.30 sampe di resort.

Ada sedikit masalah. Ferry yang harusnya brgkt jam 14.00 tiba2 tadi udah brgkt jam 11.00 tanpa pemberitahuan. Jd kita ga bs ke sorong hr ini, sedangkan kalo nunggu besok, flight nya siang, ga akan keburu. Eaaaa.. Akhirnya Mas Gilang memutuskan utk sewa speed boat ke Sorong.. 4.5 juta aja..haha..

Ktm nona marselina, iyan, dan elseh lg pada berenang di laut, enak bgt kolam renangnya -.-” Ngbrl dl sm mrk btr, dan pamit. Mrk tny kpn dtg lg, gw blg, “Janji akan dtg lg :’) pasti..” Tunggu Kakak ya..

16.05 jalan pake speed boat ke sorong, krg lbh sm2 dg rombongan nadine jg

Di jalan smpt crt2 sm anak2, tnyt tim ini lucky bastards smua jg: Bem blogger dftrnya 2 yaitu adventurer dan blogger, yg satu ga niat, terakhir br niat; Mio videographer pake ketinggalan kereta gr2 daftar acara ini; Fajar br bs daftar stgh jam sblm deadline :) )

You never know what God plans for you till you fignt to the end, cuy!

Rangkuman Guide:
Guide lokal: bang edo (loyal dan service oke sm customer)
Divemaster: bang jecky (dive guide oke pny), mantunya pak mayo
Captain: pak mayo (tau site2 bagus lokal), mertuanya bang jecky

18.30 sampe di sorong, check in di J.E.Meridien lagi
19.00an naik angkot 2x utk pegi makan seafood, jagung, dan STMJ di Benteng
22.30 sampe hotel lg, mandi, telponan, tidur

16/9:
08.30 bgn, mandi
9.45  sarapan
10.10 blk kamar, siap2
11.00 brgkt ke bandara
Telaaat!!!! Udh boarding. Rencana syuting scene terakhir gw sm mio gagal haha..
11.35 sorong-makassar
12.30 smp Sultan Hasannudin
14.15 makassar-surabaya
14.40 transit Djuanda
15.10 surabaya-jogja blah2..

Singkat kata 11.35 WIT-20.00an WIB:
Sorong-Makasar-Surabaya-Jogja (airport tutup krn cuaca buruk jd blk lg)-Surabaya-Jogja-Jakarta. Eaaaa.. :) ))

Utk foto2 narsis tp cantik, bs dilihat di album ini.
Utk video nya bisa dilihat di website Kementrian Pariwisata Indonesia http://www.indonesia.travel/

Bukan Pertemanan Biasa

18 Oct

Sejak tahun 2008 hingga sekarang, banyak komunitas jalan-jalan yang bermunculan, terutama di Indonesia. Aku ingat, waktu itu, lifesyle traveling mulai booming ketika komunitas Couchsurfing dan Hospitality Club mulai banyak naik daun. Salah satunya dimulai dari buku Keliling Eropa 6 Bulan Hanya $1000!! nya Marina Silvia K.

Berbekal umur yang masih muda dan ga berpikir panjang, aku berangkat juga solo backpacking ke Malaysia tahun 2008, berbekal komunitas Couchsurfing ini. Walaupun orang tuaku waktu itu tidak merestui untuk tinggal di rumah orang yang belum dikenal, aku nekat pergi juga.

Salah satu kisah menarik waktu itu adalah, aku menjadi guest atau couchsurfer di rumah salah satu moderator Couchsurfing Kuala Lumpur, Ratna. Selama di sana, kami berteman baik, selayaknya teman Couchsurfing lainnya. Aku sempat bertemu pacarnya, dan kami sempat melakukan gathering dengan Couchsurfer lain yang juga sedang berada di Kuala Lumpur.

Setelah itu, kami tetap berhubungan lewat email dan media lainnya. Namun, yang tidak kusangka adalah, “jodoh emang ga ke mana”. Empat tahun kemudian, kami bertemu lagi di Bali, dan kali ini, dia yang menginap di tempatku. Liburannya ke Bali kali ini, sebetulnya sedikit karena pelarian dari penatnya dengan pekerjaan di Singapura.

Bukan itu saja, tapi aku juga bisa membujuknya melakukan suatu hal di luar zona nyamannya, yaitu menyelam alias diving! Di hari kedua ketika kursus, di kala Ratna sudah hampir menyerah, aku bercerita bagaimana hampir putus asanya aku ketika awal diving. Tapi karena aku menikmatinya, aku mencoba membujuknya untuk menyelesaikan masa kursusnya dengan usaha terbaik yang bisa dilakukannya.

Akhirnya, Ratna lulus juga dengan baik dan telah resmi menjadi scuba diver, dan membawa pulang sertifikatnya dengan bangga. :’)

Hingga sekarang, Ratna menjadi salah satu orang yang selalu mendukungku untuk usaha baruku. Well.., mungkin karena dia tahu bagaimana aku sampai di sini. Kami telah berbagi begitu banyak hal.

Yang ingin aku garis bawahi di sini adalah, bagaimana jaringan Couchsurfing yang awalnya begitu sederhana, dimulai dengan saling percaya dan mawas diri, bisa berujung pada persahabatan yang direntangi jarak dan waktu. :)

I am proud to be a part of this community! :)

New Wishlist

28 Jul

Spontaneous wish-list after such a long time I did once. :)

“To accomplish great things, we must not only act, but also dream; not only plan, but also believe.” Anatole France

(In random order)

□ Can ride motor bike on the road (before 26)

Land Rover (before 27)  –> Done (6 Aug 2012) :) )

 

□ Macbook Pro (before 27)

□ Diving Instructor (before Dec 2013)

□ Beach Party Wedding (before 28)

□ Christmas Snow

□ Greece

□ India

□ New Zealand

□ Dugong

□ Whale Shark

□ Sperm Whale

□ Anjing Laut

□ Publish my own book

□ Have my own photography exhibition

□ Dive in Derawan and Raja Ampat  –> Done (12-16 Nov 2012, ID Travellers) :’)

When We Want More than We Need

23 Jun

Tiap orang emang beda-beda. Tapi pilihan kita tetap harus bijak toh?

Ada yang emang seneeeeng bgt sama kapal. Walaupun dari kayu, tapi dirawat, dibangun, diperlakukan seperti rumah sendiri. Ketika harus karam pun, dicat kembali dl, sebelum akhirnya pemiliknya mengucapkan “Terima kasih..”, sebelum dikaramkan. :’)

Tapi ada juga yang punya kapal, sudah bbrp tahun belum pernah juga dipakai. Penjaga kapal datang tiap hari, membersihkan kapal, digaji full, tapi bahkan belum pernah ketemu si empunya kapal. Entah sampai kapal itu karam, akankah sudah dipakai atau sekedar ditengok pemiliknya. Gw ga ngerti jadi sebenernya si pemilik beli kapal itu buat apa, apa buat emergency doang ketika “musibah air bah” datang. Kan kesian kapalnya ya.. :(

“You think you have to want
more than you need
until you have it all you won’t be free..”

“When you want more than you have
you think you need
and when you think more than you want
your thoughts begin to bleed

I think I need to find a bigger place
‘cos when you have more than you think
you need more space”

Lyrics: Society (By: Eddie Vedder)

Anak Perantauan

21 Jun

Hari ini kali ke-sekian kali aku terdiam dulu sebelum menjawab pertanyaan, “Dari mana, Dek?”. Beberapa kali pindah ke tempat yang baru membuat pertanyaan ini menjadi pertanyaan rutin yang aku terima.

Ketika aku menjawab, “Dari Bali..”, ada suara jeritan dari pojok hatiku yang lain yang cemburu, sehingga aku selalu menambahkan, “Tapi asli Palembang, Pak..”.
Ketika logat berbicaraku yang tidak sengaja mengucapkan kata-kata ‘Teh..’, “Atuh..”, mereka bertanya lagi, “Lho, kok bisa bahasa Sunda?”
“Iya Pak, saya kuliah dan sempat kerja di Bandung. Tapi sekarang kerja dan tinggal di Bali”, jawabku biasa seraya tersenyum.

Well..
Ya, aku anak perantauan.. :)

Beberapa kali aku pindah kerja dan pindah kota. Banyak orang bertanya, bagaimana dengan ijin dan reaksi orang tuaku tentang “kebiasaan”ku ini.

Dilepas merantau untuk kuliah, adalah langkah pertama yang mereka lakukan ketika “melepas”ku. Hal ini berarti, mereka sudah siap untuk membiarkanku belajar di luar rumah, dan jauh dari rumah. Sejak saat itu, aku sudah harus banyak belajar sendiri, belajar dari orang lain, belajar dari alam dan keadaan.

Hidup di luar rumah membuatku harus sering mengambil keputusan langsung. Aku juga termasuk anak yang jarang bertelepon dengan orang tuaku. Mungkin itu karena aku adalah anak ketiga yang dilepas merantau, jadi sudah agak biasa. Paling aku cuma memberitahu beberapa hal penting yang perlu mereka tahu tentang keadaanku, atau ketika aku kangen :p
Hal itu bukan berarti aku anak pembangkang sepenuhnya, hanya sedikit saja aku bisa menerima kata itu untuk diriku. Aku selalu mempertimbangkan apa yang mereka nasehatkan, tapi pada akhirnya, aku sendirilah yang memilih mana yang baik untuk dijalani. Mereka pun sudah mengerti, dan selalu mendukung apa yang menurutku baik. Aku bangga pada mereka.

Keadaan seperti ini membuat Kebebasan menjadi nama belakangku. Namun, tentu saja segala konsekuensi menjadi tanggung jawabku. Sering berpindah dan bertemu banyak orang membuatku juga sadar bahwa aku harus selalu membuat keputusan yang bertanggung jawab, agar tidak merugikan siapapun, termasuk – sebisa mungkin – diriku sendiri.

Dalam suatu periode tertentu, aku bisa menjadi sangat sering menangis sendiri di dalam kamar. Aku merasa sendirian. Kangen keluarga: papa, mama, kakak, ponakan, bahkan kakekku. Apalagi ketika sakit, “homesick” itu menjadi penyakit yang selalu juga hadir.

Ketika Ku Menangis, kepada siapa lagi saya harus datang?
Merantau, membuatku selalu dekat dan mengandalkan Tuhan. Seringkali aku berdoa untuk sekedar bercerita keseharianku, ataupun ketika putus dengan pacar -.-“

Saat kuliah, kelompok koor saya juga menjadi keluarga kedua saya. Mereka segalanya bagi saya di Bandung. Kami sering makan malam bareng, janjian jalan atau ke Gereja bareng, atau sekedar cerita di kos salah satu dari kami. Ketika ulang tahun, mereka yang datang bawa kue tart dan berdoa untuk saya. Lagu “The Lord Bless You and Keep You” adalah lagu ulang tahun kami.

Di sini saya tahu, saya tidak pernah benar-benar sendirian.

Merantau selama beberapa tahun juga membuatku menjadi lebih kuat, lebih berpendirian, lebih bisa mengambil keputusan, lebih mawas diri, lebih flexible, lebih dinamis, lebih ‘ga bisa diem’ :p Banyak hal positif yang mungkin tidak akan aku dapat bila aku terus berada di rumah. Aku harus bisa mengatur waktu belajar/bekerja, tidak boleh malas makan ketika lapar, membersihkan kamar secara berkala, mencuci yang kotor, mengganti barang yang rusak, janjian jalan dengan teman, juga harus meluangkan waktu untuk diri sendiri dan melakukan hobiku. Aku juga belajar tentang prioritas. Masih banyak hal lain yang belum aku alami dalam perantauanku, dan sampai sekarang pun, aku masih terus belajar..

Hingga sekarang, orang tuaku sudah capek untuk berusaha membuatku menetap lama di suatu tempat. Bagaimana bisa? Aku sendiri pun tidak pernah menduga berapa lama aku akan menghabiskan waktu di suatu tempat hingga bosan. Kalau suka, aku terus aku tinggal. Bila memang tidak cocok, biasanya aku tidak lama di tempat itu.

Tapi belajar dari orang tuaku, mungkin aku harus mempersiapkan diri untuk “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Siapa yang tahu mungkin nanti anakku juga akan sepertiku?
Bahkan ada temanku, yang hingga sekarang sudah traveling keliling dunia selama hampir 2 tahun, belum juga pulang ke rumah. Tapi aku nanti pasti akan juga “melempar” anakku untuk merantau. Dengan bangga aku akan berkata, “Merantaulah, Anakku!”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 574 other followers