DIENG oh DIENG info
Warning!
This post is kinda different with my any other posts because this is just INFORMATIVE post. I’ll share my story in another post. Enjoy!
RUTE, HARGA, CONTACT, AKOMODASI, TRANSPORTASI, MAKANAN, TIPS
DIENG & SOLO
(Every price is in IDR)
21 September 2009: JAKARTA
Pk. 16.00 tiba di Terminal Rawamangun (Jakarta) – Wonosobo, Bis Sinar Jaya, nomornya:
| Kantor Pusat | 021-88333137 |
| Rawamangun | 081310665999 |
Tarif AC à 100.000*
Tarif non AC à 85.000*
* Tarif hari kedua Lebaran 2009
Tiket tidak bisa dipesan dari hari sebelumnya, harus dibeli pada hari H.
Disarankan tiba di Terminal sebelum jam 3 sore bila ingin mendapat tiket AC.
Bis akan menunggu hingga penumpang penuh, baru berangkat.
Pk. 17.30 bis berangkat, pake acara mogok di jalan dan mampir2 restoran, baru tiba di Wonosobo sekitar pk. 06.00 pagi.
22 September 2009: DIENG
Pk. 06.00 tiba di wonosobo, minta di turunin di PLAZA (atau di Alun2), bilang aja sama sopirnya sebelum berangkat.
Turun di sana, dan cari Bis Makro menuju Dieng (biasanya ada kenek yang tawarin, atau tanya aja orang sekitar). Mirip metromini kalo di Jakarta. Bis ini sangat banyak, beroperasi dari pagi hingga sore pukul 6 sore kalo ga salah.
Bayar 10.000 per orang. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Minta diturunin di simpang 3 Dieng, biasanya kenek udah tau kalo wisatawan berenti di situ.
Dengan backpack, disarankan mengambil tempat di paling belakang agar tidak mengganggu yang laen, karena sepanjang jalan nanti akan banyak penduduk yang akan turun naik bis membawa barang dagangan.
Sepanjang perjalanan akan banyak pemandangan indah.
Dari simpang 3 itu, langsung terlihat penginapan Bu Djono (telp. 085227389949)
Tarif normal mulai dari 60rb hingga ratusan ribu, ada yang WC dalam, dan WC luar, ada yang untuk 2 orang, ada yang bisa menampung hingga 6 orang. Namun di sini semuanya ada air hangat, atau minta direbusin juga bisa.

Penginapan Bu Djono = dilingkari warna merah
Di sekitar sana banyak homestay, berikut peta sederhana tentang objek di Dieng dan di sekitaran yang banyak homestay.

Peta Dieng (by Dianzt)
(untuk yang mau file asli dalam bentuk Ms. Visio, silahkan japri)
Tips:
Ke Dieng jangan lupa bawa jaket tebal, kupluk, kaos kaki, sepatu, dan sarung tangan.. Tapi kalo lupa, di pasar dan tempat objek wisatanya juga banyak yang jual (sarung tangan cowok Rp. 7500,-)
Just fyi, gw beli kupluk di Laxmi Taylor, Rp.49.000,- udah yang bagus, cukup tebal, dan bisa tutup muka. Laxmi Taylor ada di Pecenongan (buka Senin s/d Jumat) dan Senayan City (Minggu juga buka). Sarung tangan beli di emperan Jakarta yang jual2 buat assesories motor (Rp.10.000,-)
Pk. 09.00 kami mulai beranjak.
Minta peta dan tanya aja objek wisata sama penjaga hotelnya, Mas Dwi akan dengan senang hati menggambar peta buat kita.
Hari ini kami memutuskan untuk jalan kaki karena mempunyai waktu seharian.
Rute kami hari itu:
- Candi Arjuna (Tiket masuk untuk Candi Arjuna dan Kawah Sikidang, tarif Lebaran Rp.8000,- per orang, tarif normal non lebaran Rp. 6000,).
- Museum. Di sini, kami menyeruput Ronde Jahe dulu (Rp.5000,-), ronde Dieng pake emping, kalo yang lainnya kurang lebih sama dengan ronde umumnya
- Candi Bima
- Kawah Sikidang. Di sini, bibir kawah nya terlihat blup, blup, blup.. airnya itu ky mendidih, berwarna hitam, asap tak henti mengepul dari permukannya. Konon, ada beberapa orang pernah bunuh diri di kawah ini dengan berbagai motif, pada tahun 2000-an (lagi2 baca dari buku di Bu Jono). Bisa naik sampai ke atas bukitnya bila berminat.
- Di sini kami membeli Purwaceng, semacam obat khas dieng untuk menghangatkan tubuh. Beli di lokasi wisata akan menjadi mahal, yaitu sekitar 10rb per bungkus. Beli di warung aja, harganya 5rb per bungkus.
- Dari sana, menurut peta, harusnya kami lewat jalan raya melingkar dan ke Telaga Warna dulu baru ke Dieng Plateu Theater (DPT). Tapi, kami nyebrang lewat padang rumput (liat ceritanya di postingan lain), sehingga kami sampai di Dieng Plateu Theater (DPT) dulu. Tiket masuk gratis kecuali mau nonton film sejarah nya Dieng harus bayar lagi. (gw lupa berapa harganya)
- Dari sini, ada tangga pintas menuju Telaga Warna (sehingga kita ga perlu beli tiket masuk dari loket resmi tiket masuk Telaga Warna (Rp.2500,-), hihihi..
- Di Kompleks Telaga Warna ini juga ada objek lain yang bisa diliat, yaitu : Goa Semar, Goa Sumur, Goa Jaran, Telaga Pengilon.
- Dari Telaga Warna, keluar lewat pintu satu lagi, kita akan keluar di jalan raya. Dari situ, jalan aja lurus ke arah simpang 3 lagi.
- Kami tiba di hotel sore hari, langsung buru2 mandi takut kemaleman.
- Malam makan di hotel. Sekali makan kurang lebih belasan ribu kalau hemat dan ga pesen yang macem2 (udah termasuk minum, dan nasi)
Tips:
Ojek juga bisa kalau ke objek2 wisata ini, namun sebenernya bisa jalan kaki santai, karena hari masih panjang dan udara dingin, sehingga kita tidak akan keringatan. Tapi bila diburu2 waktu dan hanya bisa sehari di Dieng, sewa motor aja lebih ekonomis (di Bu Djono, 50rb per hari termasuk bensin)
23 September 2009.
Pagi ini diawali dengan Sunrise tour, bangun pk.04.00, berangkat pk.04.30, tarif Lebaran Rp. 60.000,- per orang, include parkir dan tiket masuk (ahal!!).
Menurut info, biasanya Rp.35.000,- aja, tapi menurut Mas Dwi, biasanya juga Rp. 50.000,- klo hari biasa.
Tips:
Akalinnya (hope it works on you, krn gw belum coba), sewa motor aja, dipake juga buat liat Golden Sunrise di Desa Sembungan (desa tertinggi di Pulau Jawa).. Per hari Rp. 50.000,- (di Bu Jono) untuk 1 motor, termasuk bensin, dari pagi hingga sebelum matahari terbenam. Trus, tanya jalan aja (tapi hati-hati nyasar karena hari masih gelap), atau ikutin (baca: nguntit) rombongan yang pegi ke sana.. Sampe sana bayar tiket masuk Rp.2000,- dan parkir (untuk motor kyy Rp.1000,-).
Anyway, ada juga Silver Sunrise, yang ini di kompleks Candi. Utk lengkapnya, tanya orang hotel aja.
Dalam perjalanan ke sana, kita akan melewati Telaga Cebong di Desa Sembungan tersebut. Penduduknya 36% bertanam kentang, katanya PT Indofood juga ada perkebunan di sini..
Sunrise yang terbit sekitar pukul 5.30, dengan kecepatan orang kota yang terengah2, hiking ke atas bukit/gunung gitu memakan waktu sekitar 20-30 menit perjalanan. Jadi, disarankan, jangan telat bangun, haha..
Sewaktu naik ke atas..
OH – MY – GOD..
Keren bangett.. How Great is Our God.. Klo udah gini, kyy dunia tuh udah sempurna banget..
Lukisan Sang Pencipta berlatar belakang Gunung,
beralaskan kota Wonosobo,
berlapiskan awan putih selembut kapas,
sinar mentari merah merona malu-malu,
tercipta bayangan hitam pepohonan pelengkap putihnya kabut tipis yang menjuntai dari langit,
Perlahan.. perlahan..
Matahari mengintip di balik awan, dan semakin naik, semakin besar, semakin bulat..
Finally..
The Golden Sunrise raises itself to the world of human being…
Dari sini, kembali ke hotel, sudah sekitar pk. 07.00. Pagi, ga usah mandi deh.. haha..
Kami hari ini memutuskan untuk menyewa motor dan menjelajahi tempat yang tak terjelajah dengan berjalan kaki, yaitu:
- Perkebunan teh/Agrowisata Tambi (tnyt jauh dr Dieng, ini mah udah mau sampe Wonosobo lagi) à kalo mau ikut ibu2 metik teh, biasanya up to 10 AM.
- Tadinya pas naik ke Dieng, mau mampur dulu ke Mata Air Tuk Bimolukar. Tapi ternyata jalan di situ ga ada utk parkir motor, jd ga jadi deh. Disarankan kalo mau ke situ, jalan kaki aja, deket kok dari Bu Djono.
- Naik lagi ke Dieng, ke Kawah Sileri (lagi2 sebelum pergi, minta dibuatin peta sama Mas Dwi).
- Jangan lupa makan Mi Ongklok (mi khas wonosobo, dimakan bersama sate sapi, yummy.. enak jg ..) à lokasi liat di peta
- Ke Hot Spring Pulasari (belum dibuka untuk umum). Ternyata tempatnya ky di sungai gitu, ada belerangnya mgkn j dada uapnya gitu. Biasa sering digunakan penduduk setempat untuk mandi, jd usahakan jangan pergi terlalu sore.
- Di sekitarnya ada lagi objek wisata lain, seperti: Goa, Curug, dll. Tapi hari sudah sore, dan sempat gerimis, sehingga tidak memungkinkan untuk kami meng-explore lebih jauh.
- Pulang, pulaaanggg..
Malamnya minta tolong dianterin Mas Dwi ke Pak Lurah, beliau jual oleh2.
Tips: Siapkan budget untuk ini, jgn sampai kehabisan cash !!!
24 September 2009: SOLO
Pk. 09.00 turun ke Wonosobo naik Bis Makro.
Turun di simpang sebelum menuju ke Stasiun.
Dari situ jalan kaki ke arah Plaza, dan cari makan siang dulu.
Dari sana, naik bis menuju Solo.
Namun untuk rute Solo, bisnya biasanya sangat lama, sehingga kami disarankan menuju Bawen dulu (tarif normal 17rb per orang, perjalanan sekitar 3 jam).
Lalu dari Termainal Bawen, kami baru menuju Solo, kembali dengan Bis ekonomi (kali ini AC), tarif 11rb per orang, perjalanan sekitar 1.5-2 jam.
Akhirnyaaa, sore sampai di Solo juga..
Tips di Solo:
Harus tau tarif becak. Orang sini suka menekan orang asing yg ga bs bahasa Jawa, pastiiii dimahalin (ga kira, bisa sampai 100% lebih mahal dari orang lokal).
Berani lah tawar!! Klo ga mau ya udah ga ush naik, atau mending naik taksi argo aja. Sebel gw sama becak Solo..
Beli peta solo sebelumnya agar tau jalan dan lokasi objek wisata.
Di solo, kami menginap di Cakra Homestay (Telp. 0271-634743. Alamat Jl. Cakra II/15, 125-175).
Tarif normal dan Lebaran sama, yaitu:
- 125.000, non ac, twin bed, wc luar, fan.
- 150.000, non ac, twin bed, wc sharing (2 kamar , 1 wc) , fan.
- 175.000, ac, utk 2 orang, wc dalam.
Di homestay ini suasanya asri, ada tempat pertunjukkan gamelan, dan ada kolam renang. Namun staffnya menurut saya ga gitu ramah, but yah, oke lah, lumayan..
Malam itu, kami ke Gladag, di ujung jalan Slamet Riyadi (dekat BCA à BCA Slamet Riyadi ini patokan yang bagus krn semua orang tau).
Itu tempat makanaaaannn semua.. jd gw menyebutnya, one stop culinary place J
Di Solo ini yang patut dicoba (krn khas banget):
- Es gempol pleret (rp.4000)
- Nasi Liwet (rp. 8500)
- Nasi timlo
- Cabuk Rambak (rp. 2500)
- Sosis Solo (rp. 2500 per piece) à tapi gw nemu ini bukan di Gladag, tapi di deket jalan Slamet Riyadi , tanya aja. Gw jg tau ini dari Ibu2 di jalanan à enak!
25 September 2009.
Pagi2, bingung mau sarapan apa, tanya orang di penginapan biasa wong solo makan apa pagi2.. katanya Soto Trisakti (dekat homestay, bisa dicapai dengan jalan kaki.), dekat Matahari, Rp. 6000,- per porsi. Jadi sotonya dicampur jadi 1 mangkok gitu dengan nasi. Enak tenannnn, kenyang lho..
Di homestay juga bisa menyewa sepeda untuk seharian, tariff 15.000 per hari, per sepeda. Tapi krn daku BELUM bisa naik sepeda, ga jadi deh..
(Daku bertekad, sepulang dari sini, sebelum traveling ke tempat lain, udah HARUS bisa naik sepeda RODA DUA!!).. huhhh, nyebelin..
don’t laugh!
Oya, krn jam cek out adalah jam 1 siang, dan kami ga mungkin kembali ke homestay dulu nanti pas jalan2, maka administrasi di homestay sudah kami selesaikan pagi ini. Cm, kami nitip backpack, dan mau numpang mandi sore nanti sebelum ke stasiun lagi utk pulang. Bilang aja sama orang homestaynya, mrk kasih kok.
Akhirny hari itu kami tempuh dengan berjalan kaki dengan rute berikut:
- Soto Trisakti
- Pasar Klewer
- Keraton dan Museum Surakarta (tiket masuk 8rb per orang, kamera bayar lagi 3500) à ga usah bayar untuk kamera, bilang aja ga ada. Percuma, ga ada yang liatin juga pas di dalem semua orang udah nyampur)
- Kembali ke jalan Slamet Riyadi, lewat alun2, dan menuju ke Restoran Kusumasari untuk makan siang (sekitar rp. 15.000-25.000 per meal).
- Puri Mangkunegara (tiket masuk 10rb, excluded Guide à harus pake guide. Tips guide gw ksh 10rb utk berdua).
- Pasar Triwindu. Tanggal 25 September 2009 ini kami hoki banget, krn itu lagi ada acara Boyongan Pasar, yaitu sejenis acara adat pindahan pasar gitu, jadi ada pawai dan perayaan gitu..
- Ke daerah Lawean, liat batik. Tadinya niat mau belajar batik, tapi ternyata hanya ada kelas untuk anak2. Tapi seharusnya ada, coba cari lagi deh. Krn waktu mepet, kami tidak bisa terlalu lama di sini, hanya membeli beberapa potong batik untuk oleh2 keluarga.
Dari sini, kami pulang ke homestay dan mandi.
Pk. 19.00 kami pergi lagi ke stasiun, di tengah jalan beli sate dan sosis Solo dulu untuk makan malam di jalan, dan naik becak menuju Stasiun untuk pulang ke Bandung.
Btw, kami kali ini naik becak dapat tarif lokal karena dibantu ditawar sama ibu2 lokal di sana , ketika kami tanya jalan. Hehehehe.. puas deh rasanya..
Kesimpulannya, jangan malu bertanya.
When traveling, it’s not important to be soo nice, but more important to be smart.
Haah, gw sedikit menyesal nih blm menemukan cara menawar becak yang murah di Solo.. Hehe..
Total yang dihabiskan utk perjalanan kali ini adalah 1 juta rupiah include all, termasuk oleh2..
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya!
Ciao..!

rugbystd1 said,
November 19, 2009 at 8:01 am
Terima kasih kerana menulis tentang wisata ke Solo.
Boleh saya tanya, berapa kadar naik becak yang untuk lokal? Misalnya kala dari Cakra ke Kratonan?
Terima kasih lagi.
dianzt said,
November 19, 2009 at 11:40 am
Kira2 dari cakra ke keraton 5000 mau deh dia, utk 2 orang lho ya.. tawar, tawar, tawar! *msh sebel sama tukang becak sana* haha..
Tp utk all day, mending sewa sepeda aja lebih murah, cepat, dan ga harus berantem dl sama tukang becak, hehe..
titapoenya said,
November 30, 2009 at 4:13 pm
wiihh,…pas banget infonya. emang lagi pengen ke dieng. thanks.
Bambang Suhardi said,
February 8, 2010 at 4:38 am
Woww ………… Bagus sekali cara penyampaiannya , mungkin ada baiknya ada beberapa foto yang bisa up load dan dari dinas pariwisata atau pemda setempat dapat menambahkan beberapa info tentang candinya ,transportasinya ,ojek ,becak dll. Pasti akan lebih Seru
dianzt said,
February 8, 2010 at 12:40 pm
Terima kasih.. ^^ Iya, mgkn ada baiknya bbrp ft diupload.. Masukannya diterima ya,nanti kalo udh smpt edit,saya upload.makasih ya..
Ade said,
May 2, 2010 at 7:44 pm
Terimakasih atas infonya yg sgt lengkap…iya sayang gak ada fotonya, besok dilengkapin atuh…thks
dianzt said,
May 5, 2010 at 12:59 pm
hahaa, baiklah!
anyway, ada beberapa foto landscape hasil jeprat jepret ringan yang sudah saya upload ke fb, bisa dilihat di link berikut.
Akan saya tambahin secepatnya dehhh fotonya, hehe.. tp informasi dari dinas setempat kyy udah ada di web ini dan ini.
Thanks masukannya yaa.., dan maju terus pariwisata Indonesia!!!
johannes said,
May 24, 2010 at 3:08 pm
gw juga planning backpacking dgn beberapa teman bulan depan. kalo jl. cakra itu tepatnya di daerah mana? slamet riyadi?
dianzt said,
May 25, 2010 at 8:37 am
bukan, kalo yg di jalan slamet riyadi itu udah ga ada hotelnya (kata abang tukang becak sana). yang gw nginep itu di:
JL.CAKRA II NO 15 KAUMAN SOLO, CENTRAL JAVA,
INDONESIA, PHONE +62(271) 634743
EMAIL ADDRESS : ODYHD8320022002@YAHOO.COM
gw slama ini ga pernah email,tp lgs telp. dicoba aja.
oya, ada blog lain yang mengulas ttg hotel cakra di link ini.
Have fun di Solo yaa..!
Safe trip!
infodieng said,
April 10, 2012 at 4:19 am
wah manteb ni ulasan wisata dieng. Good articles
Memel said,
May 17, 2012 at 1:19 am
Bro,boleh bagi peta diengnya ga yg sizenya gede. Rencana gw mau kesana nih minggu depan. Tolong ya bro,di email aja bro kalo bisa bro. Thanks bro
admin said,
May 17, 2012 at 6:15 am
Ok, sudah diemail ya brow..